Live is options

0 komentar




Ya, mungkin itu yg ada dibenak setiap insan manusia yang selalu gigih memperjuangkan hidupnya sendiri. Hidup tak pernah sepi akan pilihan - pilihan yang sengaja ataupun tidak sengaja datang menghampiri. dan dari sekian banyak pilihan itu,terkadang kita putuskan untuk tidak memilih sama sekali, membiarkan pilihan itu menguap dihapus waktu..
Tapi itu salah, sebagai pejuang di dunia ini, kita harusnya memilih, meskipun pilihan itu menyakiti diri sendiri. karna disitulah letak takdir kita di esok hari.

Bahagiamu

0 komentar





Ketika aku berpikir tentang kebahagiaan, Aku berpikir tentang hati yang tenang dan Jiwa yang damai, Aku dapati itu semua saat aku bersyukur.
Aku percaya Tuhan telah mempersiapkan sesuatu hal yang lebih indah. Maka dari itu aku tidak diperkenankan untuk meneruskan jalan mendapatkanya, mungkin saja Tuhan tidak ingin aku terluka.
Sangat sulit mempelajari ilmu ikhlas.
Karena memang, hanya Tuhan yang tahu ikhlas itu apa.
Aku pun tidak pernah tahu, tak pernah mengerti.

Kisah Ibu Mulia. . . -Mulia Kuruseng-

0 komentar




Sebuah Pelajaran Tentang Seni Memberi

Ketika suaminya wafat di saat anak terkecil, anak ke lima belas berusia tiga tahun, satu hal yang Mulia Kuruseng ingat, janji mereka untuk terus menyekolahkan anak-anak. Nampaknya, itulah salah satu seni memberi , dari sekian banyak seni memberi ia tumpahkan untuk anak-anaknya. Ibu ini menikah tahun 1956 saat usianya 14 tahun (SMP). Dan suaminya umur 20 tahun (tidak tamat SMU karena ayahnya meninggal) dan dikaruniai 15 anak, 10 laki-laki dan 5 perempuan. Waktu itu belum ada KB, suaminya bilang “Tidak usah KB semua anak ada rejekinya”. Bapak As’ad, suami Ibu Mulia ini sejak awal menikah cita-cita terbesarnya adalah ANAK-ANAK HARUS BISA SEKOLAH.”Suami bilang, kamu tidak sekolah karena kawin, saya tidak sekolah karena membantu orang tua. Tapi anak-anak harus bisa sekolah terus”.Suaminya wafat ketika anak pertama masih kuliah dan yang terakhir umur 3 tahun. Setiap teringat suaminya , dan perjalanan yang harus dipikul, Ibu ini mengadu ketika sholat. Seminggu wafat suaminya ia keluar rumah untuk mencari rejeki untuk anak-anaknya melanjutkan toko almarhum suaminya. Sepeninggal suaminya para pedagang menolak membayar piutang. Berupaya menjalankan usaha suaminya sendiri ditengah piutang macet dimana-mana. Ibu ini merombak system. Ia tidak lagi menanyakan piutang yang tertunggak tapi mencoba mengikhlaskan.